Menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia
pertanian tiap tahun terus menurun sejak era 70 –an sebagai akibat derasnya
industrialisasi di Kota –kota besar
seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan,
Dengan di bangunnya pabrik-pabrik
besar berbasis teknologi tinggi menjanjikan penghasilan yang cukup menjanjikan
setiap bulannya tanpa harus berkubang dengan tanah, lumpur ,kotor.
Industrialisasi membawa arus
urbanisasi anak-anak muda di pedesaan yang terbiasa dengan dunia pertanian yang
berpuluh-puluh tahun , turun temurun beramai-ramai hijrah ke Kota-kota besar
mengadu nasib dan mengubah jalan hidup keluar dari dunia pertanian yang mulai
dianggap tidak menarik dan bergengsi.
Perubahan paradigma masyarakat muda
pedesaan berbondong-bondong ke kota besar menimbulkan kekurangan tenaga
pertanian terdidik hanya menyisakan generasi tua yang mulai termakan usia
dengan bertani seadanya tanpa disiplin ilmu pertanian yang cukup.
Merosotnya
harga jual hasil tanaman menjadi salah satu faktor penyebab generasi muda
pedesaan tak lagi tertarik bergelut bidnag pertanian karena tidak menguntungkan
secara ekonomi maupun status sosial.
Tapi bagi Azis dunia pertanian tetap menjadi menjadi pilihan
hidupnya meski teman-teman di desanya pergi merantau ke kota besar dia memilih
bertani di kampungnya sembari menekuni dunia perdagangan dikombinasikan agar
menjadi petani dapat mengenal perkembangan pasar hasil budidayanya.
Berkebun
sudah mendarah daging sejak masih kanak-kanak karena lingkungan keluarganya
berasal dari keluarga petani di Desa Losari Kecamatan Rembang Kabupaten
Purbalingga.
Pria berusia 40 tahun lulusan STM Pertanian Klampok Banjarnegara
bernama lengkap Abdul Haris Jamalludin sampai saat ini tetap eksis menekuni
pertanian dengan menanam tanaman buah-buahan seperti kelengkeng, durian,jambu
biji, jambu air,jeruk
.Di Kebun Mini miliknya di Desa Losari Kecamatan Rembang,Kabupaten Purbalingga disamping mengembangkan budi daya menggunakan metode budi daya Tabulampot (Tanaman Buah Dalam Pot).
.Di Kebun Mini miliknya di Desa Losari Kecamatan Rembang,Kabupaten Purbalingga disamping mengembangkan budi daya menggunakan metode budi daya Tabulampot (Tanaman Buah Dalam Pot).
Kesunggguhan dan ketekunan menjadi pijakan hidup Ayah tiga
anak laki-laki hasil pernikahan dengan Alumnus Fakultas Ekonomi Unsoed 1995
Mulyanti SE. Keberhasilan mengelola Kebun Mininya di Desa Losari Kecamatan
Rembang Kabupaten Purbalingga
Dan usaha dagangnya dapat mencukupi kebutuhan hidup
keluarganya dan terus berkembang
melebarkan sayapnya ke Pulau Kalimantan melihat
potensi lahan yang masih murah serta peluang yang sangta prospektif 8 tahun
yang silam dengan menanam pala,kelengkeng dll .
Setiap beberapa bulan sekali
terbang ke Kalimatan menengok Kebun miliknya dan kembali lagi ke Purbalingga
merawat Kebun Mini di desa kelahirannya, Kang Azis kini hidup damai bersama
istri tercintanya dan anak-anaknya di
Perumnas Penambongan Purbalingga jl Teratai putih No112.
Latar belakang pendidikan STM Pertanian HKTI Klampok dan
beberapa kurusu BLK Klampok sangat mendukung dalam menekuni budidaya tanaman dengan membuat Pupuk Hayati serta Zat
Perangsang Tumbuh (ZPT) hasil racikannya sendiri yang telah sukses digunakan
untuk kebutuhan tanamannya stumbuh subur cepat berbuah dan aman dikonsumsi.
Keberhasilan membuat Pupuk Hayati dan ZPT makin lama makin dikenal oleh
teman-temannya sesama pertani sehingga mulai mendapat pesanan . Permintaaan
Pupuk Hayati dan ZPT tambah hari tambah pemesannya mengaharuskan Kang Azis
membuat dalam jumlah yang lebih besar.










0 comments:
Post a Comment