Mengunjungi Desa Kedungbenda belum lengkap jika belum mengunjungi Situs
Komplek Panembahan Drona atau Lingga Yoni yang menyimpan benda -benda
purbakala baik jaman pra sejarah-jaman Hindu sampai jaman sekarang ini
Situs Watu Lumpang letaknya berada di sebelah kiri Situs Lingga Yoni
dalam satu komplek Situs Purbakala Panembahan Drona (Lingga -Yoni)
sangat mudah dicari karena letaknya sebelah kiri jalan raya Grumbul
Sokasada Desa Kedungbenda kurang lebh 500 m dari Jembatan penghubung
Kabupaten Banyumas dan Purbalingga yaitu Jembatan Lingga Mas
Berdasarkan ciri dan bentuk situs Watu Lumpang dapat dikategorikan
peninggalan pra sejarah zaman Batu Besar Megalitikum, di Pulau Jawa yang
biasanya berada di pinggir sungai.
Sebuah benda peninggalan
purbakala yang sangat menarik untuk dikunjungi berupa Situs Watu
Lumpang yang diperkirakan atau ditaksir kurang lebih berumur 3.931 tahun
berdasarkan jenis batuanya.termasuk zaman Megalitikum
Kebudayaan Zaman Megalitikum
Megalitik berasal dari kata mega yang berarti besar dan lithos yang
berarti batu, sehingga dapat diartikan sebagai batu besar (Soejono,
2010).
Menurut Von Heine Geldern, kebudayaan Megalithikum menyebar ke Indonesia melalui 2 gelombang yaitu :
1. Megalith Tua menyebar ke Indonesia pada zaman Neolithikum (2500-1500
SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu).
Contoh bangunan Megalithikum adalah menhir, punden berundak-undak,
Arca-arca Statis.
2. Megalith Muda menyebar ke Indonesia pada zaman
perunggu (1000-100 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro
Melayu). Contoh bangunan megalithnya adalah peti kubur batu, dolmen,
waruga Sarkofagus dan arca-arca dinamis.
Manusia di zaman batu
besar ini sudah dapat membuat dan menghasilkan kebudayaan yang terbuat
dari batu besar, berkembang dari zaman Neolitikum sampai zaman Perunggu,
dan kepercayaan utamanya adalah animisme. Dinamisme dan Toternisme.
Pengaruh kepercayaan animisme,Dinamisme,Toterniime ini juga masih
banyak di anut oleh masyarakat yang hidup di zaman modern ini, mungkin
ini adalah salah satu pengaruh yang disebarkan oleh masyarakat di zaman
megalitikum.
Makna Watu Lumpang Bagi Masyarakat Desa Kedungbenda
Watu Lumpang meskipun peninggalan zaman pra sejarah atau protosejarah
mempunyai makna sejarah yang sangat penting bagi masyarakat Desa
Kedungbenda karena lintasan sejarah peradaban manusia Jawa terekam
dengan jelas melalui benda-benda purbakala dan peninggalan sejarah
generasi berikutnya.
Jika kita membedah dengan makna yang
tersembunyi Watu Lumpang sebenarnya perubahan peradaban senantiasa tak
bisa dilepaskan dari peninggalan nenek moyang kita yang telah memberi
tanda,simbol dan isyarat yang selalu berkaitan dengan periode generasi
masa lalu dan terus akan berkelanjutan dalam panggung sejarah dalam
sebuah drama kehidupan dengan pemain pemain yang berbeda beda setiap
zamannya.
Watu Lumpang bukan sekedar benda mati berujud batu dari
zaman Megalitikum .Ia mengandung pesan pesan yang sangat penting
memberi gamabran tentang kondisi dan potensi alam dan sekitarnya baik
dari sisi arkeologi,geologi,geografi,klimatiologi,demografi
,sejarah,kekuasaan dan aspek kehidupan manusia lainnya
Bentuk
fisik Situs Watu Lumpang berukuran kurang panjang 80 cm,lebar 80 cm dan
tinggi 80 cm ,pada permukaan atasnya terdapat lobang kecil .Pada
sebagian atas berbentuk kotak sedangkan bagian bawah lancip kebawah.
Lubang yang berada pada bagian tengah Watu Lumpang tergolong kecil
dibandingkan dengan Situs Watu Lumpang yang terdapat di Grumbul Ragung
Desa Sambirata Kecamatan Cilongok Banyumas.
Secara umum lubang
berbentuk cekung setengah lingkaran yang ada pada Watu Lumpang pada
zaman Megalitikum pada bagian tengahnya sangat berbeda-beda,
Ada
yang besar,sedang dan kecil ,menjadi salah satu pertanda bahwa di
sebuah daerah tersebut sumber air mudah didapat dan melimpah ruah atau
sebaliknya suatu daerah kesulitan sumber mata airnya.
Watu
Lumpang di Kedungbenda berdasarkan bentuk ,ukuran maupun lobang
ditengahnya memberi petanda atau simbol bahwa wilayah desa Kedungbenda
sangat kesulitan air karena letaknya tanahnya diatas dua Sungai besar
yang mengitarinya yaitu Sungai Klawing dan Sungai Serayu.
Pertemuan Sungai Serayu dan Sengai Klawing digambarkan sangat jelas
melalui vusualisasi bagian bawah watu lumpang yang lancip segi tiga
menggambarkan "Tempuran Congot" atau Campuhan Congot
Berdasarkan
fakta dilapangan ternyata sejak jaman dahulu Desa Kedungbenda kesulitan
air baik untuk kehidupan sehari hari maupun untuk pertanian sepanjang
waktu apalagi jika musim kemarau.
Salah satu usaha masyarakat
Desa Kedungbenda untuk memperoleh air untuk kebutuhan sehari haria
dengan cara memuat sumur baik sumur konvensional,sumur bor dan jet pump .
Bila kita meneliti dan mengamati secara cermat makna yang terkandung
dari Situs Watu Lumpang semakin mengerti dan memahami betapa leluhur
kita telah mempunyai cara pandang tentang lingkungan alam dan sekiatrnya
dan memberi tanda untuk generasi berikutnya,dalam membangun
peradaban.sesaui dengan jamannya tanpa meninggakn jejak sejarah
leluhurnya.
Konsep pembangunan telah ditata rapi ,teliti ,cermat
dan sangat memandang jauh ke masa depan yang akan datang .dengan
membangun "Masterplan "perkembangan,pertumbuhan dan pembangunan sebuah
masyarakat.yang kita kenal pada zaman modern dengan istilah One Viilagge
One Product"
Jika kita mau jujur menggali konsep yang ditinggal
nenek moyang leluhur kita, maka tangga (stage) pembangunan sebuah
masyarakat atau desa tak perlu susah payah meniru negara lain bahkan
mengocpy paste kemudian diterapkan dienagara kita padahal tidak sesuai
dengan kondisi sosial,ekonomi,geografi,demografi dan aspek lainnya .
Sangat aneh kalau Watu Lumpang kemudian dihancurkan ,dibuang,dicuri
atau dianggap benda yang bertentangan nilai-nilai keyakinan dan
keagamaan dengan cara pandang sempit tanpa melihat secara keseluruhan
jejak sejarah anak manusia sejak jaman purbakala yang menjadi cikal
bakal peradaban generasi berikutnya.
Karangnangka 29 Oktober 2017
Mulyono Harsosuwito Putra
Ketua Institut Studi Pedesaan dan Kawasan





0 comments:
Post a Comment